Jumat, 07 Desember 2012

Hari Itu


Aku Elise, dan saat ini aku masih duduk di bangku 3 SMA. Aku termasuk murid yang cerdas namun ekonomi keluargaku sangatlah kekurangan. Ibuku banyak hutang disana sini. Ayahku penjudi berat, dia juga sangat ringan tangan. Tak segan Dia melayangkan tangannya kearah Ibu dan Aku. Namun Ayahku Sudah tiada. Dia meninggal karena Alkohol yang Dikomsumsinya.

Sekarang aku sudah lulus SMA. Inginnya Aku meneruskan keperguruan tinggi. Namun apa mau dikata, Ekonomi keluarga kami yang kekurangan mengharuskan aku untuk bekerja. Setelah Aku menerima Ijazahku, Aku segera melamar pekerjaan kesana sini. Aku pernah menjadi Kasir,  SPG, dan sebagainya. Maklumlah, ijazahku hanya lulusan SMA.

Umurku Sekarang 19 tahun. Aku sudah sebulan mengangur karena kontrak kerjaku habis. Aku mencari pekerjaan kesana sini, namun tetap belum dapat. Higga aku sampai ke Kantor di sebelah Kampus ternama di Jakarta. Tak terasa sudah pukul 8 malam. Aku yang terakhir  untuk interview. Sesampainya di Ruangan tersebut, kulihat lelaki paruh baya duduk di kursi. Aku sedikit canggung tapi aku tetap tak peduli demi membiayai kehidupan kami.

Setelah beberapa lama aku interview, lelaki paruh baya itu memegang tanganku. Dengan sigap aku mengelakkannya, Aku pun merasa takut dan marah jadi aku segera pergi dari sana. Lelaki itu mengejarku untuk meminta maaf. Aku memaafkannya tapi aku langsung pergi dari sana.

Aku masih merasa takut tentang hal tadi. Aku ingin cepat pulang dan jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Aku menunggu bis di halte dekat kampus itu, Namun bis yang kutunggu tak kunjung datang. Hingga pukut 9.20 malam, kulihat mobil pribadi berhenti di depanku. Lalu dua orang pria turun dan memaksa aku masuk kedalam mobil. Saat itu halte sedang sepi. Aku terus berontak, hingga akhirnya salah seorang pria mengeluarkan sebilah pisau intuk mengancamku. Aku merasa takut sekali, aku menuruti mereka masuk kedalam mobil. Tapi saat berada di depan pintu mobil. Aku melihat lelaki paruh baya itu. Akupun kaget dan sangat takut hingga kembali berontak. Dan tak sengaja pisau yang tadinya untuk mengancamku mengenai dadaku. Para pria tersebut panik. Melihat aku bercucuran darah. Mereka langsung memasukkanku kedalam mobil.

Di mobil aku masih sekarat. Dan kata yang terakhir aku dengar, “Habisi saja dia!” dari lelaki paruh baya itu. Mereka pergi dan jasadku di tinggalkan di halte tersebut. Rohku pun keluar dan aku melihat mayatku sendiri. Bersimbah darah. Aku menangis melihat keadaanku yang mengenaskan itu. Aku terus memikirkan bagaimana perasaan ibu saat melihatku seperti ini.

Setelah beberapa saat kulihat sebuah mobil berhenti. Si pengemudi kaget melihat diriku yang bersimbah darah. Dia teriak meminta tolong. Beberapa orang berkumpul dan membawa jasadku pergi, tapi aku tak tau kemana. Ingin aku mengikuti  jasadku kedalam mobil. Tapi aku takut dan tak tega membayangkan wajah ibu yang melihatku seperti itu.

Hari demi hari aku menunggu mobil lelaki tua itu. Namun tak pernah kembali. Tak terasa aku menunggu di halte tersebut sudah 2 tahun. Setiap jam 7 malam, aku sering melihat seorang lelaki tampan menunggu bus untuk pulang. Aku merasa tertarik padanya. Namun aku sadar kami berada di alam yang berbeda.
Hingga hari datang, 13 september 2009. Malam itu hujan turun deras sekali. Pria itu berlari kearah halte untuk berteduh. Namun saat dia belum sampai halte dia tergelincir dan jatuh. Di tengah hujan dia pingsan. Aku ingin membangunkannya. Tapi aku ragu, akhirnya aku memberanikan diri menariknya bangun. Tapi tak sengaja yang tertarik adalah roh pria itu. Aku kaget dan lalu kembali ke halted an pura-pura tidak tau.
Setelah terbangun. Dia kembali ke halte seperti tidak terjadi apa-apa. Aku tetap tak berani menoleh ke arahnya. Tiba-tiba dia memanggilku. Kami berkenalan, dan ternyata namanya aneh “Diroot” aku tertawa mendengarnya. Beberapa lama kami berbincang dia pergi dengan naik bus untuk pulang.
Tapi aku merasa bersalah karena hal itu. Orang-orang pun berkumpul di jasad pria itu. Mereka membawanya kerumah sakit. Aku mengikuti mereka, karena aku merasa bersalah. Dia di bawa keruang UGD 13. Selang beberapa lama kemudian keluarga pria tersebut datang,. Ibunya histeris, disana aku merasa sangat bersalah.

Aku pun kembali ke halte tempat biasa aku berada. Besoknya di tanggal genap aku ingin menemuinya, tapi aku ragu. Aku merasa bersalah tentang semua yang terjadi. Kulihat pria itu menunggu bus seperti biasa. Setelah pria itu naik kedalam bus, aku merasa menyesal tidak menemuinya. Hingga aku memutuskan menemuinya tiap tanggal  ganjil saja.

Waktu menunjukkan  pukul 6.30 sore.  Saat tanggal 29 desember 2009. aku akhirnya aku bertemu lelaki paruh baya itu. Aku meneror mimpi dan mimpinya. Hingga akhirnya dia menjadi gila. Selama aku meneror mimpinya aku tak pernah bertemu Diroot lagi. Ini membuat aku merasa rindu padanya. Mungkin ini cinta, tapi aku tahu ini salah.

Aku pun berjalan ke halte bus lagi. Di tengah perjalanan aku bertemu bapak tua memanggilku. Yah dia penjaga kampus Diroot, pakde namanya. Pakde tersebut menceritakan bagaimana cara agar Diroot kembali ke jasadnya. Dia melihat semua yang terjadi, bahkan dia bias melihatku. Caranya rohnya harus berdekatan dengan jasadnya tapi syaratnya jasad Diroot harus baik dan bisa digunakan. Pakde pun menceritakan tentang keadaan Diroot dan Keluarganya. Katanya Diroot sudah terlalu lama berada di dunia yang bukan dunianya, dia harus kembali. Kebetulan pakde member tahu tanggal yang tepat untuk mengembalikan rohnya yaitu 20 januari 2010, yaitu besok.

Seperti biasa Aku menunggu Diroot sebentar. Dia pun keluar bubaran kampus. Setelah ngobrol sebentar aku teringat perkataan pakde. Bergegas aku buru-buru pergi ke rumah sakit untuk memastikan jasad Diroot. Jasadnya terlihat baik tapi penuh impusan. Disana aku ragu melakukannya, karena jika aku melakukannya aku tidak akan bertemu Diroot lagi. Tapi ini semua harus dilakukan. Toh demi orang yang aku sayangi juga.
Akhirnya hari itu tiba, Aku menunggu Diroot lagi untuk mengajaknya kerumah sakit. Saat melihatku di halte bus, dia seperti kaget, yah mungkin tak biasa aku bertemu dengannya di tanggal genap ini. Kami pun berangkat menuju rumah sakit. Setelah sampai kami berhenti di ruangan 13. Di depan ruangan itu aku sudah membulatkan tekat. Diroot pun aku suruh masuk, setelah masuk dia terlihat kaget dan bingung. Aku menjelaskan semua yang terjadi padanya. Dia seperti tak percaya akan penjelasaku yang membingungkan. Saat dia berkata tidk mau kembali, aku mencegahnya. Dan akupun mengungkapkan isi hatiku. Setelah itu, aku langsung pergi dari hadapannya serta member kenang kenangan pita merah yang selalu aku pakai yang ku taruh di kamarnya.

Hari demi hari berlalu, aku tak pernah berbincang lagi orang yang aku sayangi. Ini membuat aku juga ingat dengan keadaan Ibu. Kau juga merindukannya. Aku pun pergi dari halte itu untuk mencari Ibu. Berbulan bulan aku mencari, akhirnya Aku kembali kerumah. Tapi kulihat rumah itu kosong tak berpenghuni. Judengar dari penunggu rumah itu Ibuku sering menangis, tak mau makan dan bersedih atas kepergianku. Dan akhirnya dia meninggal. Aku pun pergi ke tempat pemakaman ibu. Untuk pertama kalinya aku melihat makamku saat itu. Ibu dimakamkan di sebelah makamku. Aku sangat sedih, Aku ingat saat aku masih hidup dulu bersama Ibu. Aku merindukan Ibu, berbulan-bulan juga aku mencari roh Ibu, tapi aku tak menemukan rohnya yang bergentayangan sama seperti Aku.

Besok adalah 13 Septamber 2011 aku mengingat kalau hari itu untuk pertama kalinya aku bias berbincang dengan Diroot. Sudah hamper 2 tahun aku tak bertemu dengannya. Lalu aku pergi ke halte tempat aku bertemu dengannya. Seperti biasa dia sedang menunggu bus. Tapi kali ini aku tak bias menyapanya lagi. Aku hanya bisa melihatnya. Tapi yasudahlah, ini sudah takdir.

Tiba-tiba pakde memanggilku lagi. Dia berkata kalau aku bias berbincang lagi dengan Diroot dengan kemampuannya. Aku sangat senang mendengar itu. Keesokannya 13 September 2011 Saat diroot bubaran kampus seperti biasa diroot menyapa pakde dan salim. Kulihat pakde mengusap kepala Diroot. Setelah itu Diroot langsung berlari ke Halte. Saat itu aku ada di sebelah pakde. Dan pakde berkata kembali, kalau aku sudah bias berbincang lagi dengannya. Aku pun langsung menghampiri Diroot dan aku menepuk pundaknya seperti biasa. Dan perkataan pakde benar Diroot dapat melihatku. Kami pun bias berbincang kembali seperti dulu. Tidak hanya tanggal ganjil tapi setiap hari kami berbincang tentang banyak hal. Ini bagiku sudah cukup. Walau sewaktu hidupku menyedihkan. Tapi kebahagianku, aku temukan saat aku sudah meninggal.