Rabu, 28 November 2012

Tanggal Ganjil



13 September 2009
Malam itu Hujan turun deras, semua pakaianku basah. Dengan cepat aku berlari ke halte depan kampusku. Dan “prak” aku terjatuh terpleset. Kepalaku terbentur trotoar. Saat aku bangun kembali, aku melihat wanita berambut panjang dikuncir pita merah, hidung mancung yang mungil, kulit putih bersih dan sangat cantik serta menarik perhatianku. Ingin aku menyapanya, namun aku ragu dan tak punya keberanian untuk itu.
Aku duduk di sana, namun Ia tetap berdiri seperti menunggu sesuatu. Sengaja aku melewatkan busku untuk memperhatikannya. Dia sedari tadi tetap saja seperti itu. Akhirnya aku memberanikan diri 
hai, lagi nunggu bus juga yah?”
Hah? Kamu bicara ama aku?
iyalah, di sinikan cuma kita berdua.” Aku tersenyum kecil
“oh iyah, nama kamu siapa?” sautku lagi.
hahahaha, aku Elise, kamu?” wajahnya berubah terlihat senang.
Aku Dian Root, tapi panggil ajah Diroot.”
Nama kamu aneh yah, hahaha” ledeknya
hahahaa, itukan hanya panggilan aja.”
Kami asik mengobrol hingga…. 
Eh, busnya sudah datang, aku duluan yah…”


15 September 2009
Pukul 19.13 tepat aku sudah di depan halte kemarin. Tak kuduga bertemu dia lagi dan dia menepuk pundakku. 
Hai, inget aku?
kamu Elise kan?” wajahku menjadi raut senang. 
“kamu sedang apa? Nunggu bis lagi kaya kemarin, padahal rumahmu di ujung gang sana yah ?” godaku
hahaha enak saja, aku nunggu kamu loh.” Balik menggoda ku
hah?” Aku bingung tapi senang mendengar hal tersebut. Dari saat itu di setiap hari ganjil aku selalu bertemu dengannya tanpa bertanya sebab kenapa ia selalu muncul setiap tanggal ganjil. Kami selalu bercerita banyak hal dan tertawa bersama.


29 Desember 2009
Seperti biasa aku menunggunya, dia tak kunjung muncul. Hingga ku tunggu Ia sampai pukul 09.00 malam. Lalu pundakku pun di tepuk kembali 
Hai, kamu nunggu siapa mas Root?”
Ternyata itu pak de, satpam kampusku. 
ngak pak, Cuma nunggu seseorang ajah.” Sautku.
ah kamu, pasti nunggu cewe” godanya.
biasa anak muda pak, hahaha… pak udah malam, busnya datang, aku pulang dulu yah.”
hati-hati yah mas Root.”
Iyah pak de” aku melambaikan tangan dari jendela bus.
Dan sejak itu aku tak pernah melihatnya lagi. Setiap hari aku merindukannya dan ingin bertemu dengannya dan bepergian dengannya. Ingin sekali aku mengungkapkan perasaanku padanya. Tapi Aku bingung dengan semua pengalamanku dengannya.


19 Januari 2010
“Hai mas Diroot, Rindu aku gak?” Dia menepuk pundakku lagi.
Aku kaget. “Ah Elise, Kamu kemana ajah?” Tanyaku.
oh, waktu itu aku naik bus, yang kamu sering naikin, niatnya sih mau tau rumah kamu, tapi malah nyasar. Untung ajah bus itu arahnya sama kaya Rumah sakit yang biasa aku kunjungin.” Jelasnya panjang lebar. “Kenapa kamu kangen yah? Hahaha” terusnya lagi sambil menggodaku.
ah ngak.” Aku tersipu malu. Di dalam hati aku ingin mengungkap perasaanku padanya, tapi aku takut dan malu.
oh iyah, mas Diroot aku duluan yah, aku mau kerumah sakit lagi.
memang siapa yang sakit?” tanyaku.
Dia berlari kedalam bus, lalu dari balik jendela bus dia tersenyum. Aku Senang bertemu Ia lagi.


20 Januari 2010
Saat berjalan ke Halte bus, Aku kaget, tak biasanya aku bertemu Elise di tanggal genap. Tapi aku tak peduli, Aku langsung berlari dan menyapanya. “Hai, lagi nunggu aku yah?” kutepuk pundaknya.
 “ah, ngak kok, yeeee….” Ledeknya sambil menjulurkan lidah seperti memelet.
hahaha, Eh kemaren ngapain kerumah sakit?” Tanyaku penasaran. Mendengar hal itu, dia terdiam, seakan tak ingin menjawab pertanyaanku.
Kamu kenapa? Yaudah kalo ga mau di jawab gapapa kok.” Aku mengalihkan perhatian.
iyah, gapapa kok. Kamu mau ikut aku kerumah sakit?” Ajaknya, aku mengangguk untuk mengiyakan.
Sesampai dirumah sakit, Aku sampai di depan kamar 13.
ini alasan aku bertemu kamu ditanggal ganjil saja, pasti kamu bertanya-tanyakan? Kenapa aku sekarang ketemu kamu di tanggal genap ini, karena ini saatnya kamu pulang dihari ulang tahunmu ini.”
Aku terdiam kaget dan bingung dengan penjelasannya.
Kamu bingung yah? Kalau iyah, kamu masuk ajah kamar itu!”
Aku pun membuka pintu kamarnya. Aku langsung terdiam karena terkejut. Aku melihat tubuhku sendiri terdiam dengan penuh impusan. Aku bingung dan takut.
kamu hanya koma.” Jelasnya.
koma? Maksud kamu?”Aku semakin bingung.
Kamu yang sekarang ini adalah batin roh yang berjalan tanpa jasad, sama seperti aku. Sayangnya jasadku sudah lama hilang. Dulu aku dibunuh di depan halte itu dan jasadku dibawa pergi entah kemana. Dan sejak saat itu aku selalu menunggu di depan halte itu.”
Aku kaget dan tidak percaya dengan penjelasannya.
Lalu kenapa aku bisa seperti ini? Dan Aku selalu menjalankan hari hariku seperti biasa. Semua orang bisa melihat keadaanku.” Tanyaku penasaran.
Kamu ingat saat 13 september pertama kali kita bertemu? Kamu jatuh dan kepalamu terbentur trotoar. Saat itu roh kamu terlepas, tapi kamu tidak meninggal karena jasad kamu masih bisa digunakan dan sehat.” Jelasnya kembali?
Bagaimana dengan hari-hariku? Semua orang bisa berinteraksi denganku.”
Soal itu, kamu pernah denger cerita setiap manusia punya kembaran gaib? Jadi setiap hari yang kamu lalui dan kamu berinteraksi itu adalah kembaran gaib mereka.”
Aku makin bingung dengan penjelasannya. “Lalu kenapa kamu bawa aku kesini?” Tanyaku kesal penuh kebingungan.
Aku ingin kamu pulang dan kembali keduniamu. Sekarang tepat hari ulang tahunmu kan? Semua orang cemas akan dirimu yang ada di dunia sana
Aku tidak ingin pulang, bagiku disini sama saja. Dan sebenarnya Aku…. Aku…..
Sebenarnya aku juga cinta kamu mas Diroot. Tapi kamu harus pulang, dan tempat kamu bukan disini. oh iyah, ini hadiah dari aku aku taruh bawah bantal kamarmu yah” Dia melepas pita merahnya. Setelah itu dia tiba-tiba menghilang dan pandanganku mulai gelap.


22 Januari 2010
Aku tebangun dari komaku. Kulihat Ibu tidur di sebelahku. Saat ia terbangun. Iyah menangis senang melihatku sadar. Tapi aku terbangun dengan penuh tanda Tanya tentang semua hal yang aku lalui.


24 Januari 2010
Aku dibolehkan pulang oleh dokter. Sesampainya dirumah, aku berlari kekamar dan kubuka yang ada di bawah bantal. Ternyata benar semua yang aku alami itu nyata, pitanya ada di bawah bantal kamarku. Aku bingung dengan semua hal yang aku alami, seperti mimpi tapi nyata.


13 september 2011
Hujan turun deras lagi. Aku Sudah hampir lupa dengan kejadian yang pernah menimpahku dua tahun lalu.
Pak de aku pulang yah.”
iyah mas, hati hati awas jatuh lagi.”
Seperti biasa aku menunggu bis di halte tersebut dan….
Hai, lama ga ketemu aku yah?” Elise menyampaku.
Aku kaget, senang dan takut. Aku ingat betul itu Elise, wajahnya yang cantik dan kulitnya yang putih, namun kini rambutnya tak dikuncir lagi tanpa pita merahnya. Sejak saat itu aku sering bertemu dia, tidak hanya tanggal ganjil, setiap hari aku bisa bertemu dengannya. Berbicara dan bercerita seperti 2 tahun lalu. Walau pun ada yang bialng itu teman khayalan atau imajinasi. Bagiku tak masalah asal aku tetap terus bisa bertemu Elise, Aku senang.


Bersambung...