13 September
2009
Malam
itu Hujan turun deras, semua pakaianku basah. Dengan cepat aku berlari ke halte
depan kampusku. Dan “prak” aku terjatuh terpleset. Kepalaku terbentur trotoar.
Saat aku bangun kembali, aku melihat wanita berambut panjang dikuncir pita
merah, hidung mancung yang mungil, kulit putih bersih dan sangat cantik serta menarik
perhatianku. Ingin aku menyapanya, namun aku ragu dan tak punya keberanian
untuk itu.
Aku
duduk di sana, namun Ia tetap berdiri seperti menunggu sesuatu. Sengaja aku
melewatkan busku untuk memperhatikannya. Dia sedari tadi tetap saja seperti
itu. Akhirnya aku memberanikan diri
“hai, lagi nunggu bus juga yah?”
“Hah? Kamu bicara ama aku?”
“iyalah, di sinikan cuma kita berdua.” Aku tersenyum kecil.
“iyalah, di sinikan cuma kita berdua.” Aku tersenyum kecil.
“oh iyah, nama kamu siapa?” sautku lagi.
“hahahaha, aku Elise, kamu?” wajahnya berubah terlihat senang.
“hahahaha, aku Elise, kamu?” wajahnya berubah terlihat senang.
“Aku Dian Root, tapi panggil ajah
Diroot.”
“Nama kamu aneh yah, hahaha” ledeknya
“hahahaa, itukan hanya panggilan aja.”
“hahahaa, itukan hanya panggilan aja.”
Kami
asik mengobrol hingga….
“Eh,
busnya sudah datang, aku duluan yah…”
15 September
2009
Pukul
19.13 tepat aku sudah di depan halte kemarin. Tak kuduga bertemu dia lagi dan
dia menepuk pundakku.
“Hai, inget aku?”
“kamu Elise kan?” wajahku
menjadi raut senang.
“kamu
sedang apa? Nunggu bis lagi kaya kemarin, padahal rumahmu di ujung gang sana
yah ?” godaku
“hahaha enak saja, aku nunggu kamu loh.” Balik menggoda
ku
“hah?” Aku bingung tapi senang
mendengar hal tersebut. Dari saat itu di setiap hari ganjil aku selalu bertemu
dengannya tanpa bertanya sebab kenapa ia selalu muncul setiap tanggal ganjil. Kami
selalu bercerita banyak hal dan tertawa bersama.
29 Desember
2009
Seperti
biasa aku menunggunya, dia tak kunjung muncul. Hingga ku tunggu Ia sampai pukul
09.00 malam. Lalu pundakku pun di tepuk kembali
“Hai,
kamu nunggu siapa mas Root?”
Ternyata
itu pak de, satpam kampusku.
“ngak
pak, Cuma nunggu seseorang ajah.” Sautku.
“ah kamu, pasti nunggu cewe” godanya.
“biasa anak muda pak, hahaha… pak udah malam, busnya datang, aku pulang dulu yah.”
“biasa anak muda pak, hahaha… pak udah malam, busnya datang, aku pulang dulu yah.”
“hati-hati yah mas Root.”
“Iyah pak de” aku melambaikan
tangan dari jendela bus.
Dan
sejak itu aku tak pernah melihatnya lagi. Setiap hari aku merindukannya dan
ingin bertemu dengannya dan bepergian dengannya. Ingin sekali aku mengungkapkan
perasaanku padanya. Tapi Aku bingung dengan semua pengalamanku dengannya.
19 Januari
2010
“Hai
mas Diroot, Rindu aku gak?” Dia menepuk pundakku lagi.
Aku
kaget. “Ah Elise, Kamu kemana
ajah?” Tanyaku.
“oh, waktu itu aku naik bus, yang kamu sering naikin, niatnya
sih mau tau rumah kamu, tapi malah nyasar. Untung ajah bus itu arahnya sama
kaya Rumah sakit yang biasa aku kunjungin.” Jelasnya panjang lebar. “Kenapa kamu kangen yah? Hahaha” terusnya lagi sambil
menggodaku.
“ah ngak.” Aku tersipu malu.
Di dalam hati aku ingin mengungkap perasaanku padanya, tapi aku takut dan malu.
“oh iyah, mas Diroot aku duluan yah, aku mau kerumah sakit
lagi.”
“memang siapa yang sakit?”
tanyaku.
Dia berlari kedalam bus, lalu dari balik jendela bus dia tersenyum. Aku Senang bertemu Ia lagi.
Dia berlari kedalam bus, lalu dari balik jendela bus dia tersenyum. Aku Senang bertemu Ia lagi.
20 Januari
2010
Saat
berjalan ke Halte bus, Aku kaget, tak biasanya aku bertemu Elise di tanggal
genap. Tapi aku tak peduli, Aku langsung berlari dan menyapanya. “Hai, lagi nunggu aku yah?”
kutepuk pundaknya.
“ah, ngak kok, yeeee….”
Ledeknya sambil menjulurkan lidah seperti memelet.
“hahaha, Eh kemaren ngapain kerumah
sakit?” Tanyaku penasaran. Mendengar hal itu, dia terdiam, seakan tak
ingin menjawab pertanyaanku.
“Kamu kenapa? Yaudah kalo ga mau di jawab gapapa kok.” Aku mengalihkan perhatian.
“Kamu kenapa? Yaudah kalo ga mau di jawab gapapa kok.” Aku mengalihkan perhatian.
“iyah, gapapa kok. Kamu mau ikut aku kerumah sakit?” Ajaknya,
aku mengangguk untuk mengiyakan.
Sesampai
dirumah sakit, Aku sampai di depan kamar 13.
“ini alasan aku bertemu kamu ditanggal ganjil saja, pasti kamu
bertanya-tanyakan? Kenapa aku sekarang ketemu kamu di tanggal genap ini, karena
ini saatnya kamu pulang dihari ulang tahunmu ini.”
Aku
terdiam kaget dan bingung dengan penjelasannya.
“Kamu bingung yah? Kalau iyah, kamu masuk ajah kamar itu!”
Aku
pun membuka pintu kamarnya. Aku langsung terdiam karena terkejut. Aku melihat
tubuhku sendiri terdiam dengan penuh impusan. Aku bingung dan takut.
“kamu hanya koma.” Jelasnya.
“koma? Maksud kamu?”Aku semakin bingung.
“kamu hanya koma.” Jelasnya.
“koma? Maksud kamu?”Aku semakin bingung.
“Kamu yang sekarang ini adalah batin roh yang berjalan tanpa
jasad, sama seperti aku. Sayangnya jasadku sudah lama hilang. Dulu aku dibunuh
di depan halte itu dan jasadku dibawa pergi entah kemana. Dan sejak saat itu
aku selalu menunggu di depan halte itu.”
Aku
kaget dan tidak percaya dengan penjelasannya.
“Lalu kenapa aku bisa seperti ini?
Dan Aku selalu menjalankan hari hariku seperti biasa. Semua orang bisa melihat
keadaanku.” Tanyaku penasaran.
“Kamu ingat saat 13 september pertama kali kita bertemu? Kamu
jatuh dan kepalamu terbentur trotoar. Saat itu roh kamu terlepas, tapi kamu
tidak meninggal karena jasad kamu masih bisa digunakan dan sehat.”
Jelasnya kembali?
“Bagaimana dengan hari-hariku? Semua
orang bisa berinteraksi denganku.”
“Soal itu, kamu pernah denger cerita setiap manusia punya
kembaran gaib? Jadi setiap hari yang kamu lalui dan kamu berinteraksi itu
adalah kembaran gaib mereka.”
Aku
makin bingung dengan penjelasannya. “Lalu kenapa kamu bawa aku kesini?” Tanyaku kesal penuh
kebingungan.
“Aku ingin kamu pulang dan kembali keduniamu. Sekarang tepat
hari ulang tahunmu kan? Semua orang cemas akan dirimu yang ada di dunia sana”
“Aku tidak ingin pulang, bagiku disini sama saja. Dan sebenarnya Aku…. Aku…..”
“Aku tidak ingin pulang, bagiku disini sama saja. Dan sebenarnya Aku…. Aku…..”
“Sebenarnya aku juga cinta kamu mas Diroot. Tapi kamu harus
pulang, dan tempat kamu bukan disini. oh iyah, ini hadiah dari aku aku taruh
bawah bantal kamarmu yah” Dia melepas pita merahnya. Setelah itu dia
tiba-tiba menghilang dan pandanganku mulai gelap.
22 Januari
2010
Aku
tebangun dari komaku. Kulihat Ibu tidur di sebelahku. Saat ia terbangun. Iyah
menangis senang melihatku sadar. Tapi aku terbangun dengan penuh tanda Tanya
tentang semua hal yang aku lalui.
24 Januari
2010
Aku
dibolehkan pulang oleh dokter. Sesampainya dirumah, aku berlari kekamar dan
kubuka yang ada di bawah bantal. Ternyata benar semua yang aku alami itu nyata,
pitanya ada di bawah bantal kamarku. Aku bingung dengan semua hal yang aku
alami, seperti mimpi tapi nyata.
13 september
2011
Hujan
turun deras lagi. Aku Sudah hampir lupa dengan kejadian yang pernah menimpahku
dua tahun lalu.
“Pak de aku pulang yah.”
“iyah mas, hati hati awas jatuh lagi.”
Seperti
biasa aku menunggu bis di halte tersebut dan….
“Hai, lama ga ketemu aku yah?” Elise menyampaku.
Aku
kaget, senang dan takut. Aku ingat betul itu Elise, wajahnya yang cantik dan
kulitnya yang putih, namun kini rambutnya tak dikuncir lagi tanpa pita
merahnya. Sejak saat itu aku sering bertemu dia, tidak hanya tanggal ganjil,
setiap hari aku bisa bertemu dengannya. Berbicara dan bercerita seperti 2 tahun
lalu. Walau pun ada yang bialng itu teman khayalan atau imajinasi. Bagiku tak
masalah asal aku tetap terus bisa bertemu Elise, Aku senang.
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar